MOS itu….

Juli 25th, 2009 by immanent

Akhirnya…terlewati juga masa orientasi siswa atau yang biasa disebut MOS. Selama seminggu terakhir ini saya ‘menemani’ anak menjalani MOS di sekolah barunya, SMA 2 Denpasar. Jam 05.00 harus sudah di sekolah. Mau tidak mau saya harus bangun lebih pagi dari biasa. Kalau biasanya bangun jam lima atau setengah enam, maka selama MOS saya harus bangun paling telat jam setengah empat subuh. Mempersiapkan air hangat untuk mandi anak, mempersiapkan sarapan dan membantunya mengecek kembali apa-apa yang harus dibawa ke sekolah, walaupun malamnya sudah disiapkan semua.

MOS dimulai jam 05.00 dan selesai kurang lebih jam 14.30 siang. Kemudian sepulang MOS saya menemaninya mempersiapkan tugas-tugas atau barang-barang yang harus dibawa esok harinya. Dan biasanya tugas-tugasnya cukup banyak serta barang-barang yang dicaripun biasanya relatif agak susah dicari. Terutama sebelumnya harus mencari jawaban dulu dari pertanyaan logika yang diberikan oleh panitia. Tapi menurut saya masih dalam batas kewajaran walaupun sebelumnya harus berpikir cukup keras.

Misalnya, “carilah makanan yang mampu meningkatkan adrenalin”. Setelah dipikir-pikir ketemulah jawabannya yaitu “snack roller coaster”. Maka sore itu juga saya berkeliling berburu makanan tersebut. Sialnya, beberapa toko dan supermarket tidak menjualnya. Akhirnya ketemu juga di supermarket yang keempat. Pertanyaan logika di hari berikutnya adalah: “bawalah seekor ayam, sekilo beras ketan putih, seikat daun pisang dan seikat semat”. Jawabannya ternyata “lemper ayam”. Sejenis itulah… tidak terlalu susah. Kegiatan fisik lebih banyak baris berbaris dan belajar jadi paskibra, selebihnya pengarahan atau ceramah-ceramah. Dan si anak diwajibkan membuat resume dari ceramah2 tersebut untuk dikumpulkan keesokan harinya. So, MOS di sekolah anak saya tidak terlalu aneh-aneh.

Lalu adakah manfaatnya? Menurut saya sangat bermanfaat. Dampak positifnya adalah, anak saya jadi terbiasa bangun pagi (dulu waktu SMP selalu bangunnya ngepas waktu sehingga selalu terburu2). Lebih bisa menghargai dan mengelola waktu, karena pada saat MOS diberikan tugas yang cukup banyak dengan waktu relatif pendek, sehingga anak jadi berpikir bagaimana caranya menyelesaikan semua tugas-tugas tersebut tepat waktu, dan bisa merasakan betapa waktu lima menit pun sangat berharga. Secara keseluruhan disiplinnya jauh meningkat. Dan yang membuat saya tersenyum adalah anak saya “ketagihan” baris berbaris. Dia merasa paskibra itu begitu keren, gagah dan membuat rasa nasionalismenya membara. Karena rasa ketagihannya itu pula, dia memutuskan untuk ikut ekskul Paskibra. Yaa…sebagai orang tua tentu saya hanya bisa mendukung sepanjang kegiatannya positif.

Salut untuk SMA 2 Denpasar, yang telah mampu membuat suasana MOS yang sehat, berbudaya dan sangat mendidik serta mampu menumbuhkan rasa bangga akan sekolahnya. Dan sangat jauh dari kesan MOS yang pernah saya dengar sebelumnya, yang terkadang menjadi ajang ‘penyiksaan’ oleh kakak-kakak seniornya

Go Blogging…jangan Goblog :)

Juli 24th, 2009 by immanent

Aktivitas NgeBlog sudah sangat memasyarakat, bisa dilakukan oleh semua kalangan, dari siswa, mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga (termasuk saya) :) Dengan ngeblog kita bisa menyalurkan bakat menulis kita, menuangkan ide dan kita bisa menulis apa saja yang kita inginkan, apakah itu aktivitas sehari-hari, atau sebuah peristiwa yang kita alami dalam hidup ini, ataupun sebagai pengganti buku harian. Apa manfaat ngeblog? Banyak…menurut saya tentu saja. Trus untuk siapa saja blog yang kita buat itu? Untuk siapapun, paling tidak  untuk diri sendiri, setidaknya kita punya sarana untuk “mencurahkan” sesuatu yang kita alami. Atau bisa saja kelak suatu saat nanti blog kita akan menjadi sebuah dokumen bagi anak cucu kita, dimana mereka bisa membaca catatan hidup kita.

Dengan menulis akan menambah minat membaca, itu pasti. Atau yang hobi membuat puisi atau cerpen tapi belum punya ‘keberanian’ untuk mengirim ke sebuah media, bisa kita upload di blog, minimal untuk konsumsi diri sendiri. Ini pengalaman pribadi. Saya yang hobi membaca, di waktu luang mencoba menulis fiksi, beberapa cerpen yang terinspirasi dari kejadian di sekitar saya. Ada beberapa belas tulisan yang tersimpan di hard disk komputer saya, termasuk beberapa puisi dan syair. Di waktu senggang, saya buka lagi file-file tersebut dan saya baca ulang. Kadang-kadang kalau ada tulisan yang lucu, saya senyum-senyum sendiri, dan bertanya dalam hati…”wah, kapan yah saya nulis cerita ini?” Namun sekarang semuanya hilang tanpa bekas ketika hard disk saya rusak. Saya menyesal tidak membuat back-up. Saya menyesal terlambat mengenal blog.

Tapi terkadang ada masalah juga saat saya akan menulis, yaitu, ketika saya merasa punya bahan yang akan ditulis, begitu hendak mulai tiba-tiba saja semua jadi blank. Tiba-tiba tidak tahu harus mulai dari mana. Kata apa yang hendak ditulis pertama. Ini sering terjadi pada diri saya. Ketika sedang di jalan (mengantar atau menjemput anak sekolah), ketika sedang beraktivitas di dapur, atau ketika sedang bersih-bersih rumah, banyak ide..banyak hal yang muncul di kepala, saling berloncatan, dan saya ingin segera menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Tapi…begitulah, tiba-tiba jari jemari ini hang. Kadang saya ngomel sendiri, goblog amat sih….Hah?!, GOBLOG? Tidak…saya tidak mau Goblog….saya mau Go Blogging, hehehe

Dari pengalaman saya itu, untuk menulis ternyata keinginan saja tidak cukup, juga harus diimbangi dengan motivasi yang kuat agar keinginan menulis itu tidak pudar akibat dari menghilangnya isi kepala yang tiba-tiba. So? Go blogging….terutama ibu-ibu nih :) . Tapi tetap kudu hat-hati ya….agar tidak terjebak UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Jangan pernah lupakan sarapan pagi

April 15th, 2009 by immanent

Artikel berikut ini saya kutip dari seorang teman yang mem-forward ke email saya dan saya yakin artikel ini pasti bermanfaat bagi kita semua.

‘Importance of having Breakfast’

“Pentingnya Sarapan Pagi’


Breakfast
can help prevent strokes, heart attack and sudden death. Advice on not to skip breakfast!

Sarapan pagi bisa membantu mencegah stroke, serangan jantung dan kematian mendadak. Disarankan untuk tidak melewatkan sarapan pagi!


Healthy living

For those who always skip breakfast, you should stop that habit now! You’ve heard many times that ‘Breakfast is the most important meal of the day.’ Now, recent research confirms that one of the worst practices you can develop may be avoiding breakfast.

Hidup sehat

Untuk mereka2 yang selalu tidak sarapan pagi, anda sebaiknya segera menghentikan kebiasaan tersebut sekarang juga. Anda telah mendengar beberapa kali bahwa Sarapan Pagi adalah makan yang paling penting dalam sehari. Sekarang riset akhir2 ini membenarkan bahwa kebiasaan terjelek adalah menghindari sarapan pagi.


Why?

Mengapa?

Because the frequency of heart attack, sudden death, and stroke peaks between 6:00a.m. and noon, with the highest incidence being
between 8: 00a.m. and 10:00a.m.What mechanism within the body could account for this significant jump in sudden death in the early
morning hours?

Karena frekwensi terjadinya serangan jantung, kematian mendadak dan stroke memuncak antara jam 6 pagi sampai tengah hari, dengan kejadian paling sering antara jam 8 dan 10 pagi.. Mekanisme apa yang ada dalam tubuh yang menyebabkan banyak terjadinya kasus2 ini dipagi hari?

We may have an Answer..

Kami mungkin punya jawabannya.


Platelet, tiny elements in the blood that keep us from bleeding to Death if we get a cut, can clump together inside our arteries due to
cholesterol or laque buildup in the artery lining. It is in the morning hours that platelets become the most activated and tend to form these internal blood clots at the greatest frequency.

Platelet, elemen2 kecil dalam darah  yang menghindarkan kita dari pendarahan terus menerus jika kita terluka, bisa mengumpul jadi satu didalam pembuluh kita karena kolestrerol atau penumpukan pada dinding pembuluh darah. Pada siang harilah platelet ini paling aktif dan cenderung membentuk penggumpalan darah dgn frekwensi tertinggi.


However, eating even a very light breakfast prevents the morning platelet activation that is associated with heart attacks and strokes. Studies performed at Memorial University in St.Johns, Newfoundland found that eating a light, very low-fat breakfast was critical in modifying the morning platelet activation. Subjects in the study consumed either low-fat or fat-free yogurt, orange juice, fruit, and a source of protein coming from yogurt or fat-free milk. So if you skip breakfast, it’s important that you change this practice immediately in light of this research. Develop a simple plan to eat cereal , such as oatmeal or Bran Flakes , along with six ounces of grape juice or orange juice
, and perhaps a piece of fruit. This simple plan will keep your platelets from sticking together, keep blood clots from forming, and perhaps head off a potential Heart Attack or stroke . So never ever skip breakfast.

Makan sarapan pagi meski sedikit mencegah platelet menjadi aktif dipagi hari yg berkaitan dgn serangan jantubng dan stroke. Dari studi yg dilakukan di Memorial Universitas di St Johns , Newfoundland ditemukan bhw sarapan pagi yg ringan rendah lemak menjadi kritis dalam merubah pengaktifan platelet pagi. Mereka yang diteliti dalam studi tersebut mengkonsumsi yogurt yang rendah lemak ataupun bebas lemak, orange jus, buah2an, dan protein yang berasal dari yogurt atau susu bebas lemak. Jadi jika anda tidak sarapan pagi sebaiknya anda segera merubahnya. Cobalah makan cereal spt oatmeal atau Barn Flakes, dengan 6 ounces jus anggur atau jus jeruk, dan mungkin sepotong buah. Cara ini akan menghindarkan platelet anda saling menempel, menghindari terjadinya penggumapalan darah yg mungkin bisa mengarah menjadi serangan jantung atau stroke. Jadi jangan pernah tidak makan sarapan pagi.

So, ternyata sarapan pagi sangat penting lho….

Rambut dicat = gaul??

April 12th, 2009 by immanent

Suatu hari saya ke swalayan, seperti biasa ama anak. Begitu masuk swalayan , anak saya berbisik , “Bu…liat tuh, gaul banget ibu itu.”

Saya mengikuti arah pandangannya, saya lihat seorang ibu kira-kira sebaya saya, mengenakan celana panjang dan atasan rumbai-2, warna cerah dominan warna pink. Rambut gaya punk dicat agak pirang. Cantik emang, cuman menurut saya yang wong ndeso ini terlihat agak berlebihan untuk sekedar berkunjung ke swalayan apalagi ditambah dengan make up yang super lengkap, plus cat kuku merah menyala.

“Cantik ya, selebritis mungkin”, kata saya. Rupanya yang paling menarik perhatian anak saya adalah warna rambutnya.

“Bu…mau ngga rambutnya dicat seperti itu?” tanya anak saya, “Banyak lho ibu-ibu yang rambutnya dicat seperti itu”.

What?!”

“Katanya tante salon, ibu tuh kalo rambutnya dicat dikit bagus kok, biar lebih gaul”, kata anak saya (tante salon yang dimaksudnya adalah pemilik salon langganan anak saya kalau pengin creambath atau kalau lagi malas keramas di rumah karena rambutnya yang cukup panjang dan dibandingkan saya, anak lebih sering memakai jasa salon untuk perawatan rambutnya).

“Wah…ngga..ngga ibu ngga mau!”

Saya ingat beberapa kali saat saya mengantar anak ke salon, tante salon itu menawari saya agar mau nge-cat rambut, atau minimal di-highlight. Tapi untuk urusan rambut, saya tidak ingin mengubah warnanya. Disamping itu saya juga cukup tahu diri, bahwa saya ngga cocok dengan rambut warna-warni.  Saya termasuk perempuan tradisional, kalau ngga bisa dibilang kuno :) saya ngga bisa dandan sama sekali, saya ngga punya alat-2 make up lengkap, saya juga ngga kenal cat kuku alias ngga bisa pake cat kuku (kasihan yaa :) ).

“Coba deh, bu…biar lebih mirip ma Sophia Latjuba, dan kelihatan lebih gaul lho”.

Saya tertawa, “Hush…kasihan Sophia dimirip-miripin, lagi pula…emangnya ibu kurang gaul? Apakah perubahan warna rambut ibu akan membuat ibu kelihatan lebih gaul?”

Anak saya tertawa ngakak, “Ehm…nggak juga sih, dengan begini saja ibu udah gaul kok, ngga mati gaya”, katanya sambil menatap saya naik-turun.

Saya pun ikut tertawa mendengar “hiburannya”.  Saya dan anak emang sangat akrab, sangat dekat seperti temanan aja. Untuk urusan penampilan biasanya saya emang sangat mempertimbangkan pendapatnya, tapi khusus untuk saran ngecat rambut tidak bisa saya terima, karena saya tahu persis saya tidak akan merasa nyaman dengan warna rambut selain hitam. Kalau diri sendiri sudah merasa ngga nyaman, gimana orang lain melihat kita? Walaupun demikian, saya suka melihat perempuan-2 cantik dengan warna rambutnya yang  pas meski dicat warna tapi  kelihatan sangat pantas, ditambah dengan make up yang natural. Perempuan yang saya suka dandanannya seperti BCL, Dessy Ratnasari, Paramita Rusady, Maia.

Tapi kalau saya ditanya, kemana atau siapa kiblat saya dalam berdandan? Saya ngga bisa jawab, habis ngga bisa dandan sih (pengin juga suatu saat nanti ikut beauty class, minimal agar bisa dandan sendiri). Begitu juga soal mode pakaian, saya mungkin cari yang aman-aman saja, saya suka yang casual, sehari-hari hanya pakai jean + t shirt (bahkan t-shirtpun sering joinan ama anak) :) Kalau ada acara yang agak khusus, formal atau semi formal lebih suka pake model kemeja atau blazer, aman banget kan? :)

Aman atau buta mode, hehehehe….

Dag…Dig…Dug para Caleg

April 11th, 2009 by immanent

Malam hari setelah nyontreng, telepon rumah saya berdering terus. Kakak ipar yang nyaleg beberapa kali telepon menanyakan perkembangan hasil perhitungan suara di TPS saya. Tentu saja yang sangat ingin diketahuinya adalah perolehan suara partainya. Suami saya yang kebetulan anggota KPPS masih berkutat di TPS dan saya belum menerima berita dari suami.  Sayapun tidak bisa memberikan jawaban. Saya hanya bisa menghiburnya dan mengatakan bahwa menurut quick count di TV partainya masuk dalam 10 besar. TPS kami memang beda dapil dengan kakak ipar, tapi paling tidak dia ingin tahu perkembangan suara partainya secara umum.

Esok harinya saya ketemu langsung ama kakak ipar ini, kebetulan ada hari raya di kampung dan kami sama-sama pulang kampung. Sepanjang perjalanan yang jadi topik tentu saja pelaksanaan pemilu dan perolehan suara sementara.

“Mbak, kalau di TPS mbak sendiri gimana suaranya? Bisa menang di kandang sendiri nggak?”, tanya saya.

“Iyah…suara saya ternyata cukup bagus lho, bahkan merata di setiap TPS , saya dapat suara cukup banyak”, jawabnya.

“Wah…berarti ada harapan dong naik jadi anggota dewan yang terhormat?”

Dia tersenyum, “mudah-mudahan…do’akan yah”.

“Tentu saja saya do’akan, paling tidak saya dapat ‘uang dengar’, karena mendengar mbak jadi anggota dewan”, goda saya.

Dia hanya tertawa, “Pokoknya…tenang saja, hehehehe”.

Seperti halnya caleg-caleg lain, saya yakin dia dag-dig-dug juga menunggu kepastian dan pengumuman KPU secara resmi. Tapi syukurnya dia juga tidak terlalu ambisi, sehingga seandainyapun dia tidak naik saya yakin dia tidak akan depresi, kalau kecewa dikit sih…itu pasti, manusiawi kan? :)

Jadi anak terlantar setelah mama “nyaleg”

April 8th, 2009 by immanent

Beberapa hari yang lalu, 2 ponakan saya berkunjung ke rumah, 2 gadis remaja. Sampai di rumah mereka mengeluh, katanya semenjak sang mama jadi caleg mereka bagai anak terlantar.

“Buu…lagi sebelll banget nih!” (Semua ponakan saya memanggil saya dengan sebutan “ibu” seperti anak kandung memangil saya). “Mama jarang di rumah sekarang. Nggak sempat ngapain, nggak sempat masak.”

Saya tanya kenapa? Katanya, sang mama begitu sibuk dengan partainya, sibuk bertemu muka dengan para konstituennya apalagi di masa-masa kampanye. Benar-benar super sibuk dan tidak sempat memasak lagi seperti dulu, dan inilah yang paling jadi masalah karena mereka terbiasa dengan masakan mama yang enak. Kedua gadis remaja ini begitu kesal.

Saya tersenyum dan berusaha menghiburnya. “Tapi kalian kan sudah besar? sudah cukup dewasa dan tidak perlu tergantung mama lagi kan?” Iya sih, bu… tapi mama nggak sempat masak sekarang, jadinya kita betul-betul nggak teratur makannya”. “Yaah, tapi nanti kalau mama kalian naik dan duduk jadi anggota dewan yang terhormat, dan mendapatkan gaji puluhan juta, siapa dong yang menikmati? Kalian juga kan?”, saya menggodanya. “Huh…Aya udah ngancam mama nggak akan nyontreng mama nanti karena udah mentelantarkan anaknya! Baru jadi caleg udah kaya’ gini, gimana kalo udah terpilih? Bisa-bisa kita nggak pernah ketemu mama nanti!”

“Trus, apa jawab mama?”, tanya saya.

“Tahu nggak, bu? Apa jawabnya?! Mama menjawab dengan santai : Katanya, nggak apa kok….mama kehilangan satu-dua suara, yang penting mama masih punya suara banyak.”

“Coba, bu…apa nggak bikin emosi tuh jawaban mama?!”

Saya tersenyum lagi melihat tingkah dua ponakan saya yang lagi ngambek dan emosi. Sang mama adalah kakak ipar saya yang ikut jadi caleg dari sebuah partai yang baru lahir tapi langsung populer itu. Begitu banyak caleg pada pemilu 2009 ini, dan banyak prediksi juga bahwa akan ada ribuan caleg yang stress karena tidak terpilih. Bahkan banyak pihak sudah mempersiapkan tempat rehabilitasi untuk para caleg yang diduga akan stress.

“Sudahlah…sabar dulu, nanti kalau sudah selesai pemilu semua akan beres lagi kok. Doakan saja agar mama kalian terpilih supaya tidak sia-sia pengorbanannya selama ini”.

“Tapi, bu….Aya malah mengharap supaya mama nggak terpilih.”

“Hush…jangan gitu, ntar kualat lho…mendoakan yang tidak baik”

“Tapi, bu….Aya juga berdoa, kalau mama tidak terpilih supaya tidak ikutan masuk panti rehabilitasi”.

“Husshhh…..!”

Dalam hati saya sempat tercenung, apakah ini fenomena anak-anak yang “kehilangan” ibunya setelah jadi caleg??